Sindrom nyeri di kandung kemih (Interstitial cystitis) atau sering disebut sistitis merupakan peradangan yang terjadi di kandung kemih. Kondisi yang juga dikenal sebagai nyeri kandung kemih kronik ini juga bisa menyebabkan rasa sakit pada ginjal, panggul, dan area lainnya.

Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi bakteri atau konsumsi obat-obatan tertentu. Untuk mengetahui secara pasti penyebab dari sistitis, dibutuhkan pemeriksaan oleh petugas kesehatan.

Sindrom Nyeri Kandung Kemih
Interstisial sistitis atau dalam bahasa Indonesia disebut sindrom nyeri kandung kemih

Pengertian Sistitis / Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Interstitial cystitis atau nyeri kandung kemih merupakan gangguan kesehatan kronis yang menyebabkan rasa sakit, nyeri, atau tertekan pada area kandung kemih. Kondisi ini biasanya disertai dengan munculnya gejala pada saluran kencing bawah yang berlangsung selama lebih dari 6 minggu tanpa adanya infeksi atau penyebab lainnya.

Gejala yang muncul cenderung bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga parah. Pada beberapa penderita, gejala yang dirasakan terkadang muncul dan hilang begitu saja. Namun ada juga pasien yang merasakan gejala secara terus menerus.

Sistitis bukanlah sebuah infeksi, tapi terkadang pasien merasakannya seperti infeksi kandung kemih. Wanita dengan kondisi ini mungkin merasakan nyeri atau sakit saat berhubungan intim. Ketika semakin parah, sistitis bisa mempengaruhi kehidupan Anda dan orang-orang tercinta.

Beberapa orang dengan keluhan nyeri kandung kemih juga mengalami gangguan kesehatan lain seperti sindrom iritasi usus / irritable bowel syndrome (IBS), fibromialgia, dan sindrom lainnya.

Kandung kemih dan ginjal merupakan bagian dari sistem urinaria, yaitu organ tubuh yang berfungsi memproduksi, menyimpan, dan mengeluarkan urine. Terdapat 2 ginjal yang memproduksi urine, kemudian urine tersebut disimpan di kandung kemih. Otot bawah perut bertugas menjaga agar kandung kemih tetap berada pada tempatnya.

Cara Kerja Sistem Saluran Kemih

Ketika kandung kemih tidak dipenuhi oleh urine, maka organ yang satu ini mengalami relaksasi. Saat sinyal syaraf pada otak mengirimkan pesan bahwa kandung kemih telah penuh, Anda akan merasakan keinginan untuk buang air kecil.

Jika kandung kemih berfungsi normal, Anda bisa menunda keinginan untuk berkemih. Ketika sudah siap, otak akan mengirimkan sinyal ke organ ini. Otot kandung kemih yang berkontraksi akan memaksa urine untuk keluar melalui uretra, yaitu sebuah tabung yang berfungsi mengeluarkan urine.

Uretra memiliki sekumpulan otot yang disebut sphincter. Otot-otot ini menjaga agar uretra tetap tertutup sehingga urine tidak keluar sebelum Anda siap untuk berkemih. Otot spinchter mengalami relaksasi ketika kandung kemih berkontraksi.

Gejala Sindrom Nyeri di Kandung Kemih Kronik

Pasien dengan nyeri kandung kemih kronik biasanya mengalami beberapa gejala seperti rasa nyeri dan keinginan untuk buang air kecil secara terus menerus. Berikut ini gejala yang paling umum dialami oleh penderita sistitis:

Rasa Nyeri

Setiap pasien sistitis mungkin mengalami gejala yang berbeda, namun yang paling sering ditemukan adalah nyeri (terkadang disertai tekanan). Rasa nyeri biasanya terjadi pada kandung kemih dan semakin memburuk ketika kandung kemih mulai terisi.

Selain kandung kemih, beberapa pasien juga merasakan sakit atau nyeri di daerah lain seperti uretra, perut bawah, punggung bawah, dan panggul atau perineum (di belakang vagina pada wanita dan di belakang skrotum pada pria).

Pasien wanita mungkin juga merasakan nyeri pada vulva atau vagina, sedangkan pasien pria mungkin merasakan nyeri pada skrotum, testis, atau penis. Rasa nyeri ini bisa berlangsung secara terus menerus atau datang dan pergi.

Peningkatan Frekuensi Kencing

Sistitis biasanya diawali dengan peningkatan frekuensi buang air kecil. Rata-rata manusia berkemih sebanyak 7 kali dalam sehari. Pada malam hari, normalnya seseorang hanya bangun satu kali untuk kencing atau bahkan tidak sama sekali.

Lain halnya dengan penderita sistitis. Mereka mengalami peningkatan BAK pada siang dan malam hari. Jika frekuensi semakin meningkat, maka hal ini menandakan keadaan yang lebih serius.

Mendadak Ingin Kencing

Mendadak ingin kencing juga menjadi salah satu gejala sistitis. Penderita merasa ingin kencing terus menerus, bahkan ketika baru saja buang air kecil. Penderita mungkin tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah. Namun beberapa orang merasakan gejala yang lebih parah dan berlangsung dalam hitungan hari, minggu, atau bahkan bulan.

Banyak penderita sistitis menyadari bahwa beberapa hal bisa memperburuk gejala yang mereka alami, seperti makanan atau minuman, sedang stres, atau saat mengalami menstruasi. Pria dan wanita dengan sistitis juga bisa mengalami masalah saat berhubungan seksual.

Wanita kemungkinan merasakan nyeri saat berhubungan intim karena kandung kemih terletak di depan vagina. Sedangkan pria juga bisa merasakan nyeri terutama saat orgasme. Meskipun demikian, kondisi ini jarang menyebabkan mengompol. Jika ini terjadi, kemungkinan ada gangguan kesehatan lain yang sedang dialami.

Siapa saja yang mengalami sindrom nyeri kandung kemih?

Karena tidak adanya teknik standar untuk mendiagnosis sistitis, cukup sulit untuk memperkirakan jumlah orang yang mengalami kondisi ini. Namun sistitis 2 hingga 3 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Selain itu, data menunjukkan bahwa pertambahan usia dapat meningkatkan resiko terkena sistitis.

Menurut perkiraan, sekitar 1 hingga 4 juta pria dan 3 sampai 8 juta wanita mengalami gejala sistitis. Meskipun demikian, perbedaan jumlah antara pria dan wanita mungkin tidak sebanyak yang kita kira. Pasalnya, pria yang didiagnosis dengan prostatitis mungkin sebenarnya menderita sistitis.

Saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa stres bisa menyebabkan sistitis. Tapi stres secara fisik dan mental bisa membuat gejala sistitis semakin memburuk.

Bagaimana nyeri kandung kemih bisa mempengaruhi hidup Anda?

Sistitis atau nyeri kandung kemih bisa berdampak pada kehidupan Anda. Kondisi ini dapat mempengaruhi pola tidur, olahraga, hingga kehidupan sosial. Selain itu, sistitis juga bisa menyebabkan stres.

Jika tidak segera ditangani, sistitis membuat Anda kesulitan dalam bekerja atau menjalani hari seperti biasa. Penyakit ini juga dapat mempengaruhi hubungan Anda dengan pasangan dan keluarga. Terlebih lagi, sistitis bisa mengganggu tidur Anda sehingga membuat Anda terlihat kelelahan.

Penyebab Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Para ahli belum mengetahui dengan pasti tentang penyebab nyeri kandung kemih kronik. Namun ada beberapa teori mengenai terjadinya peradangan ini, antara lain:

  • Kerusakan pada jaringan kandung kemih yang menyebabkan material tertentu pada urine masuk ke kandung kemih.
  • Mastosit, yaitu sel yang bisa menyebabkan peradangan karena mengeluarkan histamin dan senyawa lainnya.
  • Terdapat sesuatu pada urin yang dapat merusak kandung kemih.
  • Perubahan syaraf yang membuat sesuatu yang normalnya tidak menyakitkan menjadi menyakitkan (misalnya pengisian kandung kemih).
  • Sistem imun tubuh menyerang kandung kemih seperti halnya yang terjadi pada kondisi autoimun.

Tidak ada kebiasaan tertentu yang diketahui meningkatkan resiko terkena sistitis. Memiliki anggota keluarga dengan sistitis mungkin dapat meningkatkan resiko terkena penyakit yang sama.

Penderita sistitis mungkin memiliki kandungan tertentu pada urine yang menghambat pertumbuhan sel pada jaringan kandung kemih. Selain itu, beberapa orang lebih rentan terkena sistitis setelah mengalami luka pada kandung kemih, misalnya infeksi.

Diagnosis Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Saat ini, belum ada pemeriksaan medis yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang menderita sistitis atau bebas sistitis. Untuk membuat diagnosis, dokter atau petugas medis akan menentukan apakah gejala yang dialami identik dengan sistitis.

Setelah itu, dokter akan mencari tahu masalah kesehatan lain yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Ada pendapat bahwa seseorang dianggap mengalami sistitis apabila penderita memiliki gejala dan tidak ada gangguan kesehatan lain yang menyebabkan munculnya gejala tersebut.

Pendapat lain menyebutkan bahwa pemeriksaan lain diperlukan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami sistitis. Berikut ini beberapa cara yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mengidentifikasi sistitis:

Riwayat Kesehatan

Petugas kesehatan akan memberikan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Gejala yang dialami
  • Berapa lama Anda mengalami gejala tersebut
  • Bagaimana gejala tersebut mempengaruhi hidup Anda
  • Gangguan kesehatan di masa lalu
  • Masalah kesehatan saat ini
  • Obat resep dan obat bebas yang Anda konsumsi
  • Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi

Pemeriksaan Fisik dan Syaraf

Dokter atau tenaga medis akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab dari gejala yang dialami. Pada wanita, pemeriksaan fisik biasanya meliputi area perut, organ di sekitar panggul, dan anus. Pada pria, pemeriksaan fisik meliputi perut, prostat, dan anus.

Petugas kesehatan juga akan melakukan pemeriksaan syaraf agar dapat mengetahui adanya gangguan kesehatan lain. Pasien sistitis juga bisa mengalami gangguan mental atau kecemasan yang dapat dihubungkan dengan kondisi tersebut.

Tes Rasa Nyeri dan Kencing

Karena karakteristik utama dari sistitis adalah rasa nyeri, dokter akan melakukan tes dan meminta Anda untuk mengisi beberapa kuesioner untuk mengetahui tingkatan nyeri yang Anda rasakan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menemukan lokasi nyeri, intensitas, dan karakteristiknya, serta mengidentifikasi faktor yang meringankan atau memperparah rasa nyeri tersebut.

Dokter juga akan bertanya seberapa sering Anda kencing. Frekuensi yang terlalu rendah atau terlalu tinggi bisa digunakan untuk mengetahui masalah urologi selain sistitis.

Tes lainnya

Dokter mungkin melakukan tes lain untuk mengetahui gangguan kesehatan selain sistitis. Tes tersebut meliputi:

Evaluasi Urodinamik

Pada evaluasi ini, kandung kemih akan diisi dengan air melalui kateter berukuran kecil. Hal ini bertujuan untuk mengukur tekanan saat kandung kemih terisi dan kosong. Penderita sistitis mempunyai kandung kemih dengan kapasitas yang kecil dan mungkin mengalami rasa sakit saat pengisian.

Sistoskopi

Dengan menggunakan alat khusus, dokter akan melakukan pemeriksaan ke dalam kandung kemih. Tes ini bertujuan untuk mengetahui adanya gangguan kesehatan lain seperti kanker. Melalui sistoskop, dokter dapat mengetahui apakah ada luka pada kandung kemih.

Jika seseorang menunjukkan gejala sistitis dan ditemukan adanya luka melalui tes sistoskopi, diagnosis menjadi lebih jelas. Sistoskopi juga bisa dilakukan di ruang operasi. Apabila ditemukan batu, tumor, atau luka pada kandung kemih, dokter dapat langsung melakukan tindakan yang tepat.

Saat ini belum ditemukan cara terbaik untuk mendiagnosa sistitis. Namun jika pasien menunjukkan gejala sistitis dan tidak ditemukan adanya infeksi atau darah pada tes urine, bisa jadi pasien tersebut mengalami sistitis.

Pengobatan Sindrom Nyeri Kandung Kemih

Tidak semua penderita sistitis mendapatkan pengobatan yang sama. Penanganan disesuaikan dengan gejala yang dialami oleh masing-masing pasien. Kebanyakan pasien biasanya mencoba pengobatan yang berbeda (atau menggabungkan beberapa jenis pengobatan) sampai gejala benar-benar sembuh.

Perlu diingat bahwa tidak ada satu pun pengobatan sistitis yang menimbulkan efek instan. Biasanya dibutuhkan beberapa minggu atau bulan untuk melihat adanya perubahan positif. Bahkan meskipun pasien mendapatkan penanganan terbaik, ada kemungkinan penyakit ini tidak sembuh total.

Dengan kata lain, sistitis bisa kambuh di lain waktu. Tapi gejala bisa berkurang secara signifikan sehingga pasien bisa menjalani hidup dengan normal tanpa pengobatan.

Pengobatan biasanya dilakukan untuk mengendalikan gejala yang muncul. Pengobatan tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan dengan pemantauan secara konstan terhadap rasa nyeri dan kualitas hidup pasien.

Konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis tentang efektivitas pengobatan yang sedang Anda jalani sehingga dokter bisa menyarankan pengobatan yang tepat.

Berikut ini beberapa fase pengobatan sistitis:

Fase Pertama: Mengubah Pola Hidup

Perubahan pola hidup, atau biasa dikenal sebagai terapi perilaku, sering digunakan sebagai pengobatan awal untuk mengatasi sistitis. Dengan terapi ini, Anda harus melakukan beberapa perubahan dalam kehidupan sehari-hari, meliputi pola makan atau hal lain yang dapat mengendalikan gejala yang dialami.

Perubahan pola hidup ini tidak serta merta menghilangkan gejala yang dialami oleh pasien. Namun sejumlah penanganan ini bisa membantu meringankan gejala yang dirasakan, yaitu:

Terapi Manipulatif

Penderita sistitis umumnya mengalami rasa sakit atau nyeri pada area bawah panggul dan terapi manipulatif dapat mengurangi gejala ini. Namun terdapat bukti yang menyebutkan bahwa latihan fisik untuk menguatkan otot bawah panggul tidak dapat meringankan gejala, tapi justru memperparah gejala tersebut. Oleh karena itu, latihan serupa seperti Kegel tidak disarankan untuk penderita sistitis.

Membatasi Stres

Tekanan emosional dan mental bisa memperburuk gejala sistitis. Penderita akan dibekali dengan metode-metode atau strategi untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan keluarga, pekerjaan, atau pengalaman yang menyakitkan di masa lalu.

Tidak perlu ragu untuk mencari bantuan jika membutuhkan strategi baru untuk mengelola rasa sakit yang tengah dialami.

Membatasi Makanan dan Minuman Tertentu

Kebanyakan penderita sistitis menyadari bawa makanan tertentu dapat memperburuk gejala yang dirasakan. Ada 4 jenis makanan yang harus dihindari oleh penderita sistitis, yaitu:

  • Semua jenis jeruk
  • Tomat
  • Cokelat
  • Kopi

Jenis makanan dan minuman yang dapat mengganggu fungsi kandung kemih antara lain:

  • Minuman beralkohol
  • Minuman berkafein
  • Makanan pedas
  • Minuman berkarbonasi

Diet Eliminasi

 Ada banyak jenis makanan yang dapat berpengaruh pada nyeri kandung kemih kronik, tapi respon penderita mungkin berbeda-beda. Setiap penderita harus mengetahui jenis makanan tertentu yang memberikan dampak negatif pada kandung kemihnya.

Cara terbaik untuk mengetahui apakah makanan tertentu berpengaruh buruk adalah dengan melakukan diet eliminasi selama 1 hingga 2 minggu. Selama program diet ini, Anda harus berhenti mengonsumsi semua jenis makanan yang dapat mengiritasi kandung kemih.

Apabila gejala sistitis membaik selama program diet tersebut, berarti setidaknya ada satu makanan yang mengiritasi kandung kemih Anda. Langkah selanjutnya adalah menemukan jenis makanan yang menyebabkan masalah kandung kemih tersebut.

Setelah 1 hingga 2 minggu, cobalah untuk mengonsumsi satu jenis makanan yang ada dalam daftar eliminasi. Jika dalam waktu 24 jam makanan ini tidak menimbulkan gejala, berarti makanan tersebut aman untuk kembali dikonsumsi.

Hari berikutnya, Anda bisa mencoba makanan lain yang ada di dalam daftar dan lakukan seperti hari sebelumnya. Dengan cara ini, Anda bisa menemukan jenis makanan yang harus dihindari. Pastikan untuk mencoba makanan satu per satu agar Anda bisa mengetahui makanan yang memicu gejala.

Fase Kedua: Obat

Jika perubahan pola hidup tidak memberikan dampak yang signifikan, dokter akan meresepkan obat. Konsumsi obat dapat dikombinasikan dengan terapi perilaku. Ada dua jenis obat yang direkomendasikan, yaitu obat oral dan intravesikal.

Obat oral terdiri dari berbagai jenis, dengan efek samping berupa rasa kantuk hingga perut kembung. Obat intravesikal biasanya diletakkan langsung pada kandung kemih menggunakan kateter. Dua pengobatan yang disetujui oleh FDA untuk mengobati sistitis antara lain:

Oral Pentosan Polysulfate

Belum diketahui cara kerja obat yang satu ini, namun muncul anggapan bahwa obat ini mampu mengembalikan lapisan pelindung pada jaringan kandung kemih. Obat ini juga dapat mengurangi pembengkakan.

Efek samping yang mungkin ditimbulkan antara lain mual, diare, dan gangguan lambung. Beberapa penderita juga mengalami rambut rontok.

Pengobatan menggunakan oral pentosan polysulfate biasanya membutuhkan waktu antara 3 hingga 6 bulan sebelum Anda mulai membaik. Obat ini juga efektif untuk mengurangi rasa sakit pada 30 dari 100 pasien.

Dimethyl Sulfoxide (DMSO)

Pengobatan lain yang juga disetujui oleh FDA adalah pemberian dimethyl sulfoxide (DMSO) pada kandung kemih melalui kateter. Metode ini biasanya dilakukan sekali dalam satu minggu selama 6 minggu. Namun beberapa orang tetap menggunakannya sebagai terapi perawatan.

Belum diketahui secara pasti bagaimana DMSO dapat mengatasi nyeri kandung kemih kronik. Kemungkinan obat ini mampu menghambat pembengkakan dan mengurasi rasa nyeri serta menghilangkan racun radikal bebas yang dapat merusak jaringan.

Sejumlah dokter menggabungkan DMSO dengan obat lain seperti heparin atau steroid (untuk mengurangi peradangan). Belum ada studi yang menyebutkan apakah kombinasi ini bekerja lebih efektif daripada penggunaan DMSO saja.

Efek samping dari penggunaan obat ini adalah munculnya bau seperti bawang putih selama beberapa jam. Pada beberapa pasien, proses memasukkan DMSO ke kandung kemih juga terasa menyakitkan. Namun rasa sakit tersebut dapat diatasi dengan pemberian anestesi lokal.

Hydroxyzine

Hydroxyzine merupakan antihistamin yang berfungsi untuk mengurangi kadar histamin. Disebutkan bahwa penderita sistitis memiliki kadar histamin yang terlalu tinggi dalam kandung kemih sehingga menyebabkan rasa sakit dan gejala lain.

Efek samping yang mungkin ditimbulkan adalah rasa kantuk. Namun hal ini justru menguntungkan karena bisa membantu pasien tidur lebih nyenyak di malam hari tanpa harus terbangun untuk kencing. Jenis antihistamin yang sudah terbukti mengatasi sistitis adalah hydroxyzine dan cimetidine. Belum diketahui apakah jenis antihistamin lain dapat digunakan.

Amitriptyline

Amitriptyline merupakan obat antidepresan yang juga mampu mengatasi masalah sistitis. Obat ini mempunyai efek antihistamin, mengurangi kejang pada kandung kemih, serta memperlambat syaraf yang menyebabkan rasa sakit.

Obat ini banyak digunakan pada penyakit kronis seperti kanker dan kerusakan syaraf. Efek samping yang ditimbulkan adalah rasa kantuk, konstipasi, dan nafsu makan menurun.

Heparin

Heparin mirip dengan pentosan polysulfate dan mempunyai cara kerja yang hampir sama. Heparin harus dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui kateter. Dosis yang digunakan berkisar antara 10,000 sampai 20,000 unit setiap hari atau 3 kali seminggu.

Obat ini jarang menimbulkan komplikasi karena heparin tetap berada di dalam kandung kemih sehingga tidak mempengaruhi bagian tubuh yang lain.

Fase Ketiga: Neuromodulasi, Pembakaran Luka dan Injeksi

Apabila perubahan gaya hidup dan konsumsi obat-obatan tidak memberikan hasil yang memuaskan, atau rasa sakit dan efek samping terasa mengganggu, Anda mungkin membutuhkan terapi lanjutan. Anda akan dirujuk ke spesialis yang menangani pasien sistitis, misalnya dokter spesialis urologi.

Berikut ini beberapa terapi lanjutan yang mungkin diperlukan:

Terapi Neuromodulasi

Setelah memeriksa riwayat pengobatan yang Anda jalani, dokter spesialis akan menyarankan terapi neuromodulasi. Terapi ini menggunakan aliran listrik ringan yang dihantarkan ke syaraf untuk mengubah cara kerja syaraf tersebut.

Pembakaran luka pada kandung kemih

Jika ditemukan luka pada kandung kemih, pengobatan dapat dilakukan dengan membakar luka tersebut. Sebelumnya Anda akan disuntik anestesi untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu, injeksi steroid juga bisa memberikan efek jangka panjang untuk mengatasi sistitis. Pengobatan ini bisa diulangi jika diperlukan.

Injeksi

Injeksi Botox dapat diberikan jika pengobatan lain tidak mampu meringankan gejala secara signifikan. Pemberian Botox dosis rendah bisa melumpuhkan otot. Ketika disuntikkan ke otot kandung kemih, obat ini mampu mengurangi rasa nyeri akibat sistitis.

Pengobatan ini memiliki batas waktu dan Anda harus menjalani pengobatan berikutnya sekitar 6 hingga 9 bulan setelah injeksi pertama. Dokter akan memantau Anda secara intensif untuk mengamati adanya komplikasi, seperti kesulitan buang air kecil.

Fase Keempat: Cyclosporine

Cyclosporine dapat digunakan jika tidak ada pengobatan yang berhasil. Konsultasikan dengan dokter apakah gejala yang Anda alami sebanding dengan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Obat imunosupresan ini dapat menimbulkan berbagai efek samping, seperti mengurangi kemampuan tubuh dalam melawan penyakit.

Fase Kelima: Operasi

Operasi biasanya dilakukan pada pasien dengan kondisi yang cukup parah dan sudah tidak dapat ditangani dengan pengobatan lain. Sebelum operasi, pasien juga harus mengetahui dan menyetujui resiko jangka panjang yang mungkin ditimbulkan.

Dokter dapat menyarankan prosedur operasi kepada pasien dengan kapasitas kandung kemih yang terbatas atau memiliki gejala yang parah dan tidak merespon terapi lain. Perlu diketahui bahwa kondisi ini tidak membutuhkan operasi besar.

Pasca Pengobatan

Pasien dengan sistitis membutuhkan perawatan secara terus menerus atau saat gejala muncul saja. Pada beberapa kasus, gejala yang dirasakan oleh pasien justru semakin bergejolak saat perawatan. Namun beberapa pasien justru merasakan gejala mulai berkurang atau menghilang.

Terkadang penderita sistitis tidak merespon terapi apapun. Meskipun demikian, manajemen rasa sakit dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka secara signifikan. Manajemen rasa sakit meliputi konsumsi obat-obatan, akupunktur, dan terapi non obat lainnya. Bahkan pada beberapa kasus yang parah, manajemen rasa sakit bisa jadi sangat bermanfaat.

Meskipun kebanyakan pasien merasakan gejala yang semakin berkurang selama pengobatan, tidak semua pasien akan terbebas dari gejala tersebut secara total. Banyak pasien yang lebih sering kencing dari rata-rata orang normal, merasa tidak nyaman atau harus menghindari makanan atau aktivitas tertentu.

Apakah Sistitis dapat disembuhkan?

Gejala sistitis bisa muncul kembali meskipun sudah menghilang dalam waktu lama. Belum diketahui apa yang menyebabkan sistitis kambuh. Selain itu, belum diketahui pula cara untuk mencegah gejala muncul kembali.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pasien sistitis agar gejala tidak kambuh:

  • Tetap mendapatkan perawatan medis setelah sembuh
  • Mencegah makanan tertentu yang dapat mengiritasi kandung kemih
  • Mencegah aktivitas tertentu atau stres yang menyebabkan sistitis semakin parah

Interstitial cystitic atau nyeri kandung kemih kronik merupakan gangguan pada kandung kemih yang berlangsung lama. Jika Anda mengalami gejala yang mengacu pada sistitis, segera konsultasikan dengan dokter.

Daftar Pustaka