Testis tidak turun – salah satu masalah di bidang urologi anak adalah testis tidak turun. Ada yang beranggapan bahwa, tetis tidak turun tak masalah dan ditunggu saja sampai anak jadi dewasa. Akan tetapi, dari sisi bidang urologi testis tidak turun membawa dampak yang besar bagi anak antara lain

  • Gangguan kesuburan dikemdian hari
  • Bisa berkembang jadi kanker testis
  • Resiko penyakit testis lainnya

Tentu, kita sebagai orang tua tidak mau anak kita mengalami 3 permasalahan lanjutan hanya karena tidak mengobati anak dengan testis tidak turun.

testis tidak turun
Testis tidak turun, artinya testis gagal masuk ke dalam rongga skrotum. Biasanya testis ada di lipat paha

Simak postingan berikut agar mendapatkan informasi lengkap tentang testis tidak turun.

Baca juga : penyebab gangguan keseburuan pria

Testis anak tidak turun

Testis tidak turun, dalam istilah medis disebut juga dengan kriptorkidismus, merupakan kondisi di mana testis tidak turun ke tempat yang semestinya di dalam kantung kulit di bawah penis (skrotum). Pada umumnya, hanya satu testis yang tidak turun. Namun, 10% kasus melibatkan kedua testis.

Kondisi ini ditemukan pada 3-4 dari 100 anak yang baru lahir; dan sekitar 21% merupakan anak yang lahir prematur. Untungnya, sebagian testis akan turun dengan sendirinya selama 3 bulan pertama kehidupan.

Namun, testis yang gagal turun dengan sendirinya setelah usia 3 bulan. Oleh karena itu, 1-2 dari 100 anak membutuhkan terapi lebih lanjut untuk menurunkan testis.   

Testis tidak turun sebelah

Testis bisa gagal turun ke skrotum entah satu sisi baik kiri maupun kanan, ataupun keduanya. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa lebih sering testis tiak turun hanya sebelah. Belum ada perbedaan apakah testis yang gagal turun ini kiri atau kanan, yang pasti perlu pemeriksaan dan terapi lanjutan untuk kelainan ini.

Secara umum yang lebih penting adalah apakah testis masih dapat diraba di lipat paha atau sama sekali tidak teraba. Oleh karena itu, testis tak turun terbagi menjadi dua yaitu

  • Masih dapat teraba. Biasanya masih dapat diraba entah di skrotum bagian atas, ataupun dilipat paha.
  • Sama sekali tidak teraba. Biasanya jenis yang kedua ini terapinya lebih sulit karena testis sama sekali tidak teraba. Kita tidak mengetahui apakah memang testisnya sama sekali tidak berkembang atau testis ini masih ada di dalam perut. Jika masih ada di dalam perut, testis dapat diturunkan dengan tindakan pembedahan laparoskopi

Kenapa testis tidak turun

Sebagian besar kasus kriptorkidismus belum diketahui penyebabnya. Hal ini mungkin terjadi karena testis tidak normal sejak awal. Testis terbentuk di dalam rongga perut saat perkembangan janin.

Selama beberapa bulan terakhir di masa perkembangan janin, testis akan turun secara bertahap dari perut ke skrotum melalui sebuah jalur seperti tabung di dalam lipat paha (kanal lipat paha).

Pada kasus ini, proses ini akan berhenti atau terhambat.  Dalam beberapa kasus, terdapat masalah mekanis, yakni testis turun tapi tidak masuk ke skrotum dan malah berada di tempat jauh dari skrotum. Kondisi tersebut disebut testis ektopik.

Salah satu keadaan lain yang dapat menyebabkan kriptorkidismus adalah hormon bayi yang tidak cukup untuk merangsang testis. Belum ada studi yang mengaitkan kejadian ini dengan nutrisi ibu saat kehamilan.

Terkadang, penyakit ini tapi tidak menempel dengan baik di dalam skrotum. Ketika anak itu tumbuh, hal ini akan terlihat dengan jelas. Sekitar 1 dari 5 kasus kriptorkidismus ditemukan saat anak tersebut sudah cukup besar (bukan bayi). Oleh karena itu, setiap anak laki-laki harus dicek lokasi testisnya saat melakukan pemeriksaan fisik tahunan.

Penyebab testis tidak turun

Beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab meningkatnya risiko kejadian terjadinya masalah pada testis pada bayi baru lahir adalah:

  • Berat badan bayi lahir rendah;
  • Kelahiran prematur;
  • Riwayat keluarga penyakit testis yang tak ada di skrotum atau masalah lain dalam perkembangan alat kelamin;
  • Kondisi janin yang menghambat pertumbuhan, seperti Down syndrome atau defek dinding abdomen;
  • Konsumsi alkohol ibu saat kehamilan;
  • Ibu merokok saat hamil atau terpapar dari luar (perokok pasif);
  • Orang tua terpapar pestisida.

Ciri testis tidak turun pada bayi

Tidak melihat atau merasakan testis di tempat yang seharusnya merupakan tanda utama kelainan ini.

Perlu dibedakan apakah

  • Testis masih dapat diraba
  • Testis sama sekali tidak dapat diraba

Cara mengobati testis tidak turun

Testis yang gagal turun umumnya dideteksi saat bayi Anda sedang diperiksa setelah kelahiran. Jika anak Anda memiiki testis yang tidak berada di skrotum, tanyakan kepada dokter Anda seberapa sering anak Anda perlu check-up atau dicek ulang.

Jika testis anak Anda belum turun di usia 4 bulan, kemungkinan besar anak Anda memerlukan operasi untuk mengoreksi kondisi ini.

Mengobati kelainan pada testis saat anak Anda masih bayi dapat menurunkan risiko komplikasi di kemudian hari, seperti infertilitas (tidak punya anak setelah 1 tahun menikah dan berhubungan intim secara teratur) dan kanker testis.

Pada anak laki-laki yang lebih besar, yang saat lahir memiliki testis yang turun tetapi testis tersebut dapat naik turun kadang-kadang bahkan hilang. Kondisi ini dapat berupa:

  • Testis retraktil, yakni testis bergerak dari skrotum ke kelamin yang dapat dibalikkan kembali menggunakan tangan saat pemeriksaan fisik. Kondisi ini normal dan disebabkan oleh refleks otot di skrotum.
  • Kriptorkidismus yang didapat, testis ditemukan di paha atau di rongga perut dan tidak dapat dialihkan ke posisi semula menggunakan tangan.

Apabila Anda mengamati ada perubahan pada alat kelamin atau buah zakar anak Anda dan khawatir akan perubahan tersebut, segera hubungi dokter Anda.

Tindak lanjut testis tidak turun

Apabila dokter anak Anda tidak merasakan testis di skrotum saat pemeriksaan fisik, dokter akan menyarankan beberapa tindakan ke dokter urologi untuk penegakkan diagnosis dan penanganan.

Laparoskopi

Tabung kecil berisi kamera akan dimasukkan melalui sayatan kecil di perut anak Anda. Tindakan ini dilakukan untuk menentukan lokasi testis yang berada di dalam abdomen.

Dokter urologi juga dapat memperbaiki lokasi testis tersebut pada prosedur yang sama, tetapi tindakan tambahan juga wajar dilakukan pada beberapa kasus.

laparoskopi pada testis tidak turun
Beberapa lubang kecil dibuat di perut anak untuk memasukkan alat operasi ke perut dan mencari serta memperbaiki testis yang gagal turun
Testis berada di dalam perut
Ini adalah gambaran di dalam perut anak dengan testis tidak turun. Organ bulat di tengah-tengan itulah testis yang gagal turun ke skrotum

Untuk menyimak video operasi teropong mencari testis di perut, silakan simak video di bawah ini

Operasi laparoskopi untuk testis tidak turun (copyright Ravi Kanojia)

Operasi terbuka

Luka sayatan yang lebih besar diperlukan untuk eksplorasi rongga abdomen atau kelamin dalam beberapa kasus.

Penanganan testis tidak turun

Tujuan pengobatan ini adalah mengembalikan testis ke lokasi yang sesuai, yakni skrotum. Testis yang gagal turun ke skrotum umumnya dikoreksi dengan operasi (orchiopexy).

operai orchidopexy
Untuk operasi terbuka, dibuat luka di lipat paha untuk mencari dan menurunkan testis

Dokter bedah akan membawa testis ke skrotum dan menjahitnya agar tetap menempel di skrotum. Prosedur ini bisa dilakukan dengan laparoskopi atau operasi terbuka. Setelah itu, monitoring akan dilakukan melalui pemeriksaan fisik, pencitraan, dan tes hormon.

Pengobatan melalui pemberian hormon hCG (human chorionic gonadotropin) juga dapat diberikan agar testis bergerak dengan sendirinya ke skrotum. Namun, pemberian hormon biasanya tidak direkomendasikan karena kurang efektif dibanding operasi.

Meyakinkan anak dengan kelainan ini agar mau ke dokter

Jika anak Anda tidak memiliki testis, ia mungkin akan sensitif terhadap perbedaan tersebut dan cemas karena berbeda dengan teman-temannya. Beberapa strategi yang dapat membantunya adalah:

  • Ajari anak Anda mengenai skrotum dan testis dengan benar;
  • Jelaskan dengan perlahan bahwa umumnya terdapat dua testis yang terletak di skrotum. Jelaskan juga bahwa ia tetap anak yang sehat meskipun tidak memiliki satu/dua testis;
  • Ajak anak Anda berbicara mengenai pentingnya operasi;
  • Beri tahu anak Anda bagaimana cara menjelaskan atau menjawab pertanyaan mengenai kondisinya apabila ada temannya yang bertanya;
  • Belikan anak Anda boxer atau celana renang yang tidak ketat agar tidak terlalu terlihat saat ganti baju atau bermain olahraga;
  • Selalu amati tanda-tanda cemas atau malu, seperti anak Anda tidak mengikuti olahraga yang ia senangi.

Efek testis tidak turun

Agar testis berkembang dan berfungsi secara normal, testis perlu berada di lingkungan yang lebih dingin dibandingkan suhu tubuh pada umumnya. Skrotum menyediakan lingkungan yang lebih dingin ini. Beberapa komplikasi yang terjadi jika testis tidak berada di skrotum adalah:

Kanker testis

Kanker testis umumnya dimulai dari sel-sel di dalam testis yang memproduksi sperma tidak matang. Pria dengan testis yang tidak turun memiliki risiko lebih besar terkena kanker testis.

Risiko ini lebih besar jika testis yang tidak turun berada di abdomen (bukan di sekitar alat kelamin), dan ketika kedua testis terdampak. Operasi hanya dapat menurunkan risiko kanker testis, tidak menghilangkan sepenuhnya.

Masalah kesuburan

Rendahnya jumlah sperma, kualitas sperma yang buruk, dan kesuburan yang menurun lebih mungkin terjadi pada pria dengan testis yang tidak turun. Hal ini dapat disebabkan oleh perkembangan testis yang abnormal, dan dapat bertambah parah apabila kondisi ini tidak segera ditangani.

Baca juga : gangguan kesuburan pada pria

Komplikasi lainnya yang dapat terjadi akibat lokasi testis tidak turun yang abnormal meliputi:

Torsio testis

Torsio testis adalah keadaan ketika testis (yang berisi pembuluh darah, saraf, dan saluran yang mengantarkan semen ke penis) terpelintir. Hal ini menimbulkan nyeri hebat dan menghalangi aliran darah ke testis.

Trauma

Jika testis terletak di area sekitar buah zakar, testis dapat rusak karena tekanan dari tulang pubis.

Daftar Pustaka